Minggu, 14 September 2008

Pelaku Pembobol Kartu Kredit Rp 2 M Diciduk


Satuan Cyber Crime Polda Metro Jaya bekerjasama dengan kepolisian Singapura dan Federal Berau of Investigation (FBI) menangkap pelaku pembobolan kartu kredit sejumlah perusahaan internasional. Total kerugian mencapai US$ 200.000 atau sekitar Rp 2 miliar.

Tersangka, Afung (30), telah ditahan sejak Juli 2008 lalu. Afung yang merupakan warga Palembang diduga telah melakukan kejahatan ini sejak tahun 2005.

"Kami masih mengembangkan kasus ini, untuk mengungkap kemungkinan adanya jaringan," ujar Kasat Cyber Crime Polda Metro Jaya, AKBP Winston Tommy yang mengaku tengah berada di California.

Dengan melakukan intercept ke beberapa situs, yaitu www.priamtech.com, www.wagneraltenators.com, www.summitpumelektronikinc.com, www.boshinc.com, www.rosmountinc.com, Afung menggunakan kepiawaiannya mencari data kartu kredit. Kemudian setelah didapat data-data, Afung pun membobolinya via google media.

"Afung menjaring kartu kredit platinum dengan cara chatting di mlRc denpan server dalnet di room 5888. Dari situ, dia meminta seorang cracker untuk membobol kartu kredit tersebut," ujarnya melalui email.

Selamatkan Bumi dengan Daur Ulang Ponsel


Seiring kian membanjirnya ponsel baru di pasaran, ratusan juta ponsel diyakini menjadi tak terpakai penggunanya. Padahal, jika ponsel-ponsel tersebut didaur ulang, justru bisa menyelamatkan bumi.

Para pelaku industri pun mulai menyadari hal tersebut. Digagas oleh Enviromental Protection Agency (EPA), para produsen ponsel, operator hingga retailer tengah menggalakkan kampanye daur ulang ponsel ini.

Program besutan EPA ini bertajuk 'Recycle Your Cell Phone. It's An Easy Call'. Pendukung program ini diantaranya AT&T Wireless, Best Buy, LG Electronics, Motorola, Nokia, Office Depot, Samsung, Sony Ericsson, Sprint, Staples dan T-Mobile.

EPA mengatakan, latar belakang kenapa program ini dibuat adalah karena masih banyak konsumen yang tidak menyadari bahwa ponsel-ponsel mereka yang tidak lagi digunakan dapat didaur ulang. Sebagiannya lagi, tidak tahu dimana tempat untuk mendaur ulang ponsel.

Menurut catatan EPA, diperkirakan hanya dibawah 20% dari ponsel bekas tersebut yang didaur laung tiap tahunnya. Padahal, hampir semua komponen yang dipakai untuk pembuatan ponsel dan aksesorisnya menggunakan bahan-bahan seperti metal, tembaga dan plastik.

EPA meyakini daur ulang ponsel merupakan salah satu sarana untuk merawat dan melindungi bumi. Diantaranya mampu mengurangi emisi gas rumah kaca, menghemat energi dan sumber daya alam.

Seperti dikutip detikINET dari Softpedia, Senin (15/9/2008), diperkirakan sebanyak 100-130 juta unit ponsel tak lagi digunakan konsumen, sebagian besar dikatakan malah hanya berakhir di tempat penyimpanan atau gudang.

Padahal, jika 100 juta ponsel didaur ulang, maka diyakini akan setara dengan penghematan energi listrik bagi 194 ribu rumah di Amerika Serikat selama setahun.

sumber : detikinet.com

Senin, 25 Agustus 2008

Webcam Pantau Planet Mars





Kata webcam bisa mengingatkan pengguna internet pada banyak hal, mulai dari pengawasan hingga pornografi. Namun webcam yang satu ini istimewa karena memantau planet mars.

Seperti dikutip detikINET dari DiscoverMagazine, Senin (25/8/2008), webcam ini disebut-sebut sebagai yang paling jauh di tata surya. Webcam ini berada di atas pesawat luar angkasa Mars Express yang mengorbit seputar planet merah Mars.

Kamera yang melayang di angkasa sejak 2003 ini awalnya digunakan untuk memastikan pemisahan modul penjelajah Beagle dari pesawat angkasa yang membawanya. Kemudian ia sempat dimatikan sebelum akhirnya dinyalakan kembali pada 2007.

Kamera tersebut menghasilkan pencitraan yang tidak ilmiah atau disebut juga 'pandangan wisatawan', ini karena data yang dihasilkan tak cukup untuk analisa ilmiah. Namun citra yang dihasilkan kamera tersebut memang istimewa, darinya bisa didapatkan gambar mars dalam berbagai posisi, termasuk posisi sabit dengan matahari terbit di belakang Mars.

Sabtu, 09 Agustus 2008

Meski Sudah Distop, XP Masih Rajai Penjualan


Jakarta - Kendati penjualan Windows XP telah resmi dicabut Juni lalu, ternyata penjualan sistem operasi ini masih dominan.

Hal ini diungkapkan oleh Jane Bradburn, market development manager of commercial notebooks HP Australia. Menurut penuturannya, perusahaannya masih menjual mesin XP tapi menggunakan lisensi Vista. Pernyataan ini menguatkan keraguan banyak kalangan tentang klaim dari Microsoft bahwa Vista laris manis di pasaran.

"Mulai 30 Juni lalu, kami tidak dapat mengirimkan PC dengan lisensi XP," tandas Jane Bradburn, seperti dikutip detikINET dari ITNews, Sabtu (9/8/2008).

Lebih lanjut Jane Bradburn menambahkan bahwa mereka mengapalkan PC bermuatan XP dengan lisensi Vista Business. Sistem operasi ini masih mendominasi penjualan PC mereka. Di laporan Microsoft, penjualan ini akan dicatat sebagai penjualan Vista.

Memang bukan rahasia lagi bahwa Vista kurang mendapat sambutan hangat dari konsumen. Analis dari Forrester Research, Thomas Mendel, pernah memprediksikan hanya sekitar 8,8 persen perusahaan yang telah mengadopsi Vista.

Analisa ini menimbulkan kegusaran Microsoft. Kegusaran ini dituangkan dalam blog Vistanya. Di blog tersebut Microsoft mengklaim telah sukses menjual lebih dari 180 juta kopi Vista.

"Ada banyak bukti untuk menyanggah laporan tersebut-termasuk berbagai laporan dari Forrester dan analisa lainnya-, yang terkesan cenderung mencari sensasi, daripada menyajikan perspektif industri bermutu berdasarkan diskusi dengan kalangan profesional IT atau pengetahuan yang mendalam. Sungguh mengecewakan organisasi seperti Forrester memberikan pendekatan semacam ini," tulis Microsoft dalam blognya tersebut.

original post by : detikinet.com